Minggu, 24 Desember 2017

Teknik Menulis Skenario Film Cerita



Teknik Menulis Skenario Film Cerita



Biar belajar pada guru nyanyi paling hebat di ujung langit, kalau memang tidak punya bakat, siapa pun tidak bakal bisa diubah jadi pandai menyanyi. Untuk jadi penyanyi orang harus punya bakat menyanyi. Kemampuan seseorang yang memiliki bakat itu bisa dikembangkan menjadi optimal kalau dibantu dengan penguasaan teori dan teknik menyanyi.

Begitu juga dalam menulis skenario film. Kalau ingin menjadi penulis skenario, seseorang harus lebih dulu punya bakat mengarang.

Tapi ada yang berpendapat bahwa untuk bisa menulis skenario tidak diperlukan tambahan pengetahuan teknik penulisan skenario atau teori tetek-bengeknya. Buktinya banyak penulis skenario yang hebat di Indonesia tanpa harus repot-repot menulis ini itu.

Cerita dan Skenario

            Skenario adalah desain penyampaian cerita atau gagasan dengan media film. Cerita aslinya mungkin adalah karya tulis, entah berupa cerita pendek atau novel. Orang yang membaca karya tulis tersebut akan memahami cerita dan menikmati keindahannya dari susunan kata-kata dan membayangkan kejadiannya sebagaimana yang dilambangkan dengan kata-kata. Begitu dia membaca kata hujan, maka pembaca akan membayangkan air yang berjatuhan dari langit. Kalau novel menyebutkan bahwa istrinya meninggalkan rumah pada malam hari dengan mengendari taksi, maka penonton akan membayankan dalam khayalannya bagaimana istri itu berjalan meninggalkan rumah, dalam keadaan ketakutan, naik taksi, dan sebagainya. Adapun penulis skenario menuliskan ceritanya secara filmik, sebagaimana akan nampak di layar putih. Dalam skenario penuturannya menggunakan Media Gambar dan Media Suara.

            Karena perbadaan bahasa yang digunakan, maka besar kemungkinan bahwa cerita yang sama akan berbeda dalam penyugguhannya. Mungkin bagian tengah novel akan dituturkan sebagai pendahuluan skenario. Karena bagian itu bisa menjadi adegan yang sangat menarik dalam penyajian film sebagai penarik perhatian penonton. Film bisa menggambarkan adegan itu shot-shot yang bergerak dinamis, SUARA yang merangsang ketegangan, editing yang mencampur adegan menjadi lebih mendebarkan dan sebagainya.

            Uraian mengenai skenario ini akan kita bicarakan lebih jauh nanti, setelah kita bicaran arti cerita untuk film.

            Tidak semua jenis cerita cocok untuk dibikin novel. Mungkin suatu cerita bagusnya dijadikan cerita pendek, atau mungkin juga sebagai novelet. Karena ada persyaratan tertentu agar cerita bisa dan bagus diubah menjadi novel atau lainnya. Demikian pula halnya dengan cerita film. Tidak semua cerita bisa dan bagus menjadi cerita untuk difilmkan.

Cerita Film

            Pertama, cerita untuk difilmkan haruslah bercerita dramatik (dramatic story), yakni cerita yang mengandung unsur dramatik.

Apa itu dramatik?

            Saya kira bagus juga sekarang kita uraikan pengertian mengenai kata itu, karena pada uraian selanjutnya nanti kata dramatik itu akan sering disinggung dalam berbagai pokok pembicaraan.

            Kata dramatik berasal dari kata drama, bahasa yunani, yang kemudian berarti pertunjukan pentas. Pergelaran yang pada mulanya merupakan bagian dari upacara keagamaan kemudian berkembang pada pementasan carita yang berisi konfilk-konflik. Maka kata drama di samping berarti pertunjukan pentas, tapi juga bermakna peristiwa yang menggetarkan.

Dalam cerita dramatik tokoh yang dikisahkan, tokoh utama cerita, haruslah objek yang menarik, dan problemnya juga harus kuat dalam menggugah emosi yang menyaksikan.

            Tokoh yang menarik itu adalah yang bisa menimbulkan rasa simpati orang pada umumnya. Ia bisa gadis cantik yang kaya dan pandai, bisa seorang superman, Nyai Loro Kidul, lelaki homoseks, da’i muda, gadis gelandangan, atau penyanyi rock.

Isi Cerita

            Istilah di atas ini punya penamaan yang berbeda-beda diberbagai buku penulisan skenario. Seperti central idea, message, premisse, dan sebagiannya.

            Penonton umum, sesuai menonton film bertanya, “apa sih maunya film ini?” atau apa sih yang mau disampaikan film itu?” yang dipertanyakan penonton itu adalah isi cerita itu.

            Isi cerita merupakan bagian film yang amat penting, karena faktor inilah yang menentukan nilai bobot film, di samping mutu keindahan penyajian filmiknya. Artinya film dianggap bermutu kalau:
  1. Bobot isi ceritanya tinggi, dan
  2. Indah penyajian filmnya

Kalau bobot isi ceritanya bagus tapi penyajian filmnya bagus tapi penyajian filmnya jelek, maka penonton akan bilang: “film ini sebetulnya bagus, Cuma nggak enak dilihat.” Atau sebaliknya, penonton akan bilang: “film ini sebetulnya cakep, Cuma enggak ngerti apa mau ngomong apa, pepesan kosong.”

Contoh Cerita:

Seorang pria meninggalkan keluarganya sekian lama yang lalu karena terpikat wanita lain. Hali ini menimpakan tanggung jawab keluarga ke pundak anak tertuanya yang baru belasan tahun untuk merawat ibu yang sakit-sakitan dan dua adik yang masih kecil. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan sebaliknya menambah beban. Dengan penderitaan yang luar biasa bagi kakak tertua, adik-adik sudah bisa dibesarkan dengan baik dan ibunya sudah bisa menjalini hidup yang tentram. Dalam keadaan begitu sang Ayah kembali. Dalam keadaan tua dan kesehatannya lemah. Ia butuh perlindungan.
Sang Ayah berharap bisa diterima kemali di tengah keluarga. Hal itu menjadi bahan perdebatan dalam rumah. Kakakt tertua sudah lama menganggap bapaknya sudah mati, orang yang sudah menimpakan beban penderitaan ke pundaknya. Tapi adik-adiknya merasa kasihan, ingin agar orang tua renta itu ditolong. Dan sang ibu yang sudah dibikin menderita batin, seolah bisa memaafkan karena orang itu pernah dicintainya. Terjadi dua blok dalam rumah.
Sang kakak menolak kepulangan Ayah, karena fungsi Ayah sudah ia ambil. Lelaki tua itu tidak berhak mendapat perlindungan di rumah ini. Kedua adik berpendapat bahwa bagaimanapun orang tua itu Ayah mereka. Menurut kakak penerimaan adiknya itu karena mereka tidak merasakan beban berat yang ditimpa lalaki itu kepada keluarga ini, karena mereka waktu itu masih kecil-kecil.
Kakak tertua akhirnya lunak juga hatinya oleh ibu. Tapi mereka sudah tidak bisa menemui ayahnya kembali. Pada cerita asli  dan gubahan Usman Ismail, sang Ayah bunuh diri. Pada gubuhan saya, sang Ayah sengaja menghindar karena tau anaknya menerima dia kaerna terpaksa, Ayah tidak mau menjatuhkan lagi harga diri.

            Kesimpulan yang bisa ditarik dari cerita ini sudah saya paparkan, bahan perenungan ini terasa semakin relevan dilontarkan sekarang. Mungkin seorang ayah  bukan tidak mengurus atau menimpakan beban rumah tangga pada orang lain, tapi memberikan kebutuhan duniawi  yang banyak namun tanpa kasih sayang.

            Kesimpulan lain yang bisa ditarik dari contoh-contoh isi carita di atas adalah bahwa isi cerita yang baik adalah yang relevan dengan problema zamannya. Maksudnya, jangan sekarang ini dilontarkan bahan renungan tentang kawin paksa, umpamanya, yang dewasa ini sudah bukan masalah lagi. Mungkin ada satu atau dua orang tua yang masih memaksa kawin anak gadisnya dengan anak  pejabat. Itu hanya kasus, bukan gejala umum sebagaimana pada zaman Siti Nurbaya. Maka itu pengarang Y.B. Mangunwijaya menggeser isi cerita dari kisah klasik Roro Mendut cari cinta sejati ke masalah kekuasaan. Jalan ceritanya masih sama.

Mudah mudahan ini  sedikit membantu pengetahuan anda yang suka berkarya dibidang perfilman. Dengan tujuan positif dan membimbing penonton ke jalan yang benar. Terima kasih sudah mampir di Blogger saya.

Artikel ini saya ambil langsung dari buku berjudul “Teknik Menulis Skenario Film Cerita” Hak penulis “H. Misbach Yusa Biran”

Salam sukses dari saya.
Zaky Burhanuddin Bakhri 👷👷


Terima Kasih.